Che Guavara dan Struktur Organisasi

Ernesto Guavara adalah simbol perjuangan yang disukai anak-anak muda. Siluet wajahnya yang khas dengan rambut gondrong dan topi baret dicetak di jutaan baju kaos di seluruh dunia. Che, nama panggilannya, terusik dengan kemiskinan yang dia lihat di negara-negara Amerika latin dan tergerak untuk berjuang melawan kapitalisme. Bersama Fidel Castro, Che berhasil menggulingkan presiden Kuba melalui perang gerilya. Setelah diangkat menjadi menteri perindustrian, Che tetap memeluk erat idealisme menentang gaya hidup berlebihan. Istrinya diharuskan naik kendaraan umum seperti rakyat lainnya. Namun, dengan hidup penuh pengabdianpun Che tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya ketika pertama kali diangkat menjadi komandan oleh Castro untuk membawahi 75 tentara semasa berjuang di tengah hutan. Che menulis dalam memoarnya, “saya merasakan kebanggaan luarbiasa mendapat kepercayaan membawahi pasukan sendiri.”

Suatu organisasi dapat memiliki “idealisme” atau nilai budaya berbeda, berbasis kinerja gaya kapitalis ataupun berorientasi kolektif ala sosialis.  Apapun budayanya, struktur diperlukan untuk mengelola relasi antar unit kerja atau individu di dalamnya. Struktur melahirkan “komandan-komandan” yang membawahi unit kerja: direktorat, divisi, grup, atau satuan kerja lainnya. Struktur dirancang untuk mendorong efisiensi dalam koordinasi kerja. Orang yang pekerjaannya serumpun disatukan dalam satu kelompok sehingga lebih mudah mencapai tujuan bersama. Pembedaan atau vertical differentiation yang jelas dalam tanggung jawab dan wewenang antara atasan dan bawahan juga menjadi motivasi pertumbuhan karir seperti yang dialami Che Guavara.

Struktur organisasi tidak selalu efektif atau efisien. Banyak organisasi yang gagal dalam merealisasi kinerja mereka karena kesalahan dalam desain struktur. Upaya restrukturisasi juga sering kurang berhasil karena gagal melihat akar permasalahan secara utuh.

Ada delapan tes yang dapat dilakukan dalam restrukturisasi untuk memastikan bahwa akar permasalahan struktur benar-benar ditangani. Salah satunya adalah tes strategy alignment. Tes ini menilai seberapa baiknya struktur saat ini telah mengakomodir strategi perusahaan dalam memberikan nilai tambah kepada pelanggan. Suatu bank nasional yang ingin menerapkan strategi pengembangan produk dan pelayanan berbasis teknologi informasi (TI) akan sulit merealisasi strategi tersebut jika bagian TI-nya masih sibuk berkutat dengan masalah operasional. Divisi pengembangan TI harusnya dibentuk terpisah agar bisa fokus kepada aspek pengembangan produk atau layanan baru.

Clarity of integration and differentiation merupakan tes untuk menilai seberapa baiknya pengelompokan beragam aktivitas (diferensiasi) organisasi untuk mencapai efisiensi dari spesialisasi dan tetap terintegrasi dengan baik melalui mekanisme koordinasi yang efektif. Struktur organisasi yang mengelompokkan divisi berdasarkan fungsi, seperti pemasaran dan produksi, sering menghadapi tantangan “silo” ketika memberikan pelayanan kepada pelanggan. Saling lempar tanggung jawab atau waktu tunggu antar divisi yang lama menciptakan kekecewaan pelanggan. Ketika hal ini terjadi, mekanisme integrasi struktur untuk melayani pelanggan perlu dibangun.

Tes people readiness adalah salah satu tes yang paling sering menjadi akar permasalahan di Indonesia. Tes ini mengukur seberapa baiknya pemenuhan kompetensi, baik kualitas maupun kuantitas, dari pemegang jabatan dalam stuktur organisasi. Seorang direktur di perusahaan consumer goods ingin melakukan restrukturisasi kantor wilayah (kanwil) yang membawahi kantor cabang. Beliau merasa banyak produk baru yang kurang berhasil dijual oleh cabang-cabang karena belum adanya koordinator penjualan produk baru di level kanwil. Namun setelah analisis dilakukan, kanwil rupanya telah memiliki “kotak” yang mengatur kordinasi. Uraian jabatan yang jelas, termasuk tanggung jawab, wewenang, dan key performance indicators dari pimpinan kanwil untuk menjalankan tugas tersebut juga telah dijabarkan. Masalah terletak pada pelaksanaan peran yang belum mampu dilakukan oleh kepala kanwil. Dengan kata lain, ini bukanlah masalah struktur, melainkan masalah kompetensi manusia yang belum selaras.

Berbagai tes lain masih dapat dilakukan: process and systems aligment, clarity of roles and responsibilities, execution excellence culture readiness, agile capability, dan regulatory and governance compliance. Semua tes ini bertujuan untuk memastikan restrukturisasi tidak hanya menyentuh symptom tapi juga menangani akar permasalah dari penyakit organisasi yang muncul. Kadang, dengan menangani akar permasalahan, restrukturisasi bahkan bisa dihindarkan.

Che Guavara dan Struktur Organisasi

Suwardi Luis –  CEO, PT GML Performance Consulting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *