Donald Trump vs Ahok: Authentic Leadership dalam Eksekusi

“Dia hanya menyampaikan apa yang ada dipikirannya,“ kata Clint Eastwood, mantan aktor koboi yang berumur 86 tahun, beberapa hari lalu. Clint membela Donald Trump.

Bulan lalu dunia masih sulit percaya ketika Donald Trump secara resmi dinobatkan menjadi kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari partai Republik. Pebisnis properti yang masuk ke dunia politik ini tak ragu menyuarakan pendapatnya yang kontroversial. Di awal kampanyenya ia menyatakan pemerintah AS harus membangun tembok pemisah di perbatasan Amerika dan Meksiko untuk mencegah masuknya imigran gelap ke AS. Seruannya untuk melarang umat Muslim memasuki negara AS dikritik keras oleh berbagai pemimpin dunia.

Pembelaan Clint Eastwood kepada Trump mencerminkan kehausan sebagian warga Amerika akan politikus yang memiliki “authentic leadership.” Pemimpin otentik dimaknai Clint dan pendukung Trump sebagai pemimpin yang jujur dan terbuka dalam menyampaikan apa yang dipercayainya. Pemimpin otentik memiliki keselarasan dalam pemikiran, perkataan dan perbuatan.

Tema Authentic leadership sepertinya menjadi tren kepemimpinan baru dalam beberapa tahun terakhir ini. Gubernur DKI Jakarta yang akrab dipanggil Ahok dikenal dengan pernyataannya yang blak-blakan. Kadang tuturkatanya terdengar kasar dan menyakitkan. Namun hari ini dia juga menjadi idola anak-anak muda. Meski mendapat penolakan dari sebagian politikus dan warga, tidak dapat dipungkiri bahwa Ahok disukai oleh banyak warga yang telah mengumpulkan lebih dari satu juta KTP untuk mendukung pencalonannya kembali. Kegalakan Ahok dilihat sebagai antithesis perilaku korup dari oknum pejabat atau politikus yang bersembunyi dibalik kesopanan.

Kepemimpinan Donald Trump dan Ahok sepintas terlihat mirip. Tetapi sebenarnya mereka sangat berbeda. Pemimpin otentik bukanlah semata-mata pemimpin yang berani menyampaikan pendapat apa adanya. Otentisitas memang bermakna keselarasan pemikiran, kata dan perbuatan. Namun kepemimpinan menuntut seorang pejabat publik untuk meletakkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Pernyataan-pernyataan Trump, meskipun jujur dan berani, cenderung untuk membangun kebencian kepada kelompok masyarakat tertentu demi memenangkan dukungan merebut kursi kepresidenan. Trump hanya memiliki rekam jejak keberhasilan dalam membangun kerajaan bisnis menumpuk kekayaan pribadi. Sebaliknya, ketegasan Ahok ditunjukkan dalam membela kebijakannya untuk memperbaiki tatakelola pemerintahan dan membangun Jakarta yang lebih baik.

Pemimpin otentik juga diukur dari kemampuannya meng-eksekusi ide yang disampaikan. Tidak sekadar berkata, pemimpin otentik seperti Ahok atau Risma, panggilan akrab walikota Surabaya, menerjemahkan ide transformasinya dengan menggunakan alat yang nyata. Disiplin dalam bekerja dan rutin dalam memonitor hasil kinerja merupakan kunci dalam eksekusi.

Jakarta dan Surabaya memiliki berbagai alat seperti sistem Smart City, e-Budgetting dan Qlue untuk mendorong displin dalam perencanaan dan eksekusi. Qlue adalah aplikasi online yang bisa dipakai masyarakat untuk melaporkan keluhan terkait pelayanan publik. Tidak sekadar alat pelaporan, aplikasi ini juga bermanfaat memonitor tindaklanjut penyelesaian atas keluhan yang diajukan.

Ada beragam alat lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan dalam eksekusi. Penggunaan alat atau sistem dapat bermanfaat untuk menjaga kesinambungan eksekusi. Pemimpin yang otentik menimbulkan kontroversi dengan pernyataan mereka yang vokal. Pernyataan kontroversi ini menimbulkan harapan yang tinggi dari pendukungnya yang mendambakan perubahan. Harapan ini wajib dipenuhi.

Tanpa menggunakan alat atau sistem, keberhasilan eksekusi seolah hanya bergantung kepada diri seorang pemain musik organ tunggal. Ketika pemainnya hilang, lagu yang dinyanyikan terpaksa berhenti. Dengan penggunaan sistem, implementasi transformasi dalam perusahaan atau organisasi pemerintahan akan melibatkan dan didukung oleh lebih banyak pemain. Kehilangan satu pemain tidak akan menghentikan pertunjukan. Sistem akan mendorong terbentuknya superteam, bukan superman.

tools in execution

Tools in Execution

Suwardi Luis

CEO, GML Performance Consulting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *