Kepemimpinan dan Kapitalisasi Pasar Perusahaan

Kepemimpinan adalah topik favorit dalam studi ilmu sosial dan menjadi inspirasi penulisan berbagai buku maupun penyelenggaraan seminar. Toko buku online Amazon menjual lebih dari 300.000 judul buku berbeda terkait topik ini.

Dampak positif kepemimpinan terhadap nilai perusahaan sudah dikonfirmasi dalam beragam penelitian. Salah satunya menunjukkan bahwa aspek kepemimpinan berkontribusi 30% dalam faktor pertimbangan para investor ketika memilih saham unggulan.

Penggunaan aset tanwujud oleh investor dalam menilai perusahaan bukanlah sesuatu yang baru. Meningkatnya kompleksitas dunia usaha menuntut perbaikan dalam menilai perusahaan di luar standar akuntansi Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) yang telah berlaku sejak tahun 1930an. Baruch Lev, seorang professor akuntansi, melakukan studi terhadap ratusan perusahaaan yang telah masuk bursa saham.

Beliau menemukan bahwa rasio nilai pasar perusahaan dibanding nilai buku perusahaan, yang tercermin dari nett asset sesuai standar perhitungan GAAP, telah naik dari 1 menjadi 6 dalam 25 tahun terakhir. Rasio ini sering disebut sebagai market-to-book ratio. Artinya, hari ini, laporan neraca yang tradisional hanya dapat menjelaskan sekitar 15% nilai utuh sebuah perusahaan.

Mayoritas dari kapitalisasi pasar perusahaan ditentukan oleh aset tanwujud yang tidak tercatat dalam neraca keuangan. Menurut Baruch, aset tanwujud dapat dibagi ke dalam empat kategori yaitu kemampuan riset (diukur misalnya dengan hak paten dan copyright), nilai merek (mencerminkan citra dan reputasi), aset struktural (seperti sistem IT, proses kerja, dan kualitas SDM) dan penguasaan pangsa pasar.

Bank BCA yang memiliki kapitalisasi pasar saham sebesar USD 24,5 Milyar per Februari 2016 telah menggeser posisi DBS Group dari Singapore sebagai bank terbesar di Asia Tenggara. Nilai perusahaan Bank BCA, misalnya, dihargai bukan hanya berdasarkan nilai gedung atau tanah yang dikuasai tetapi juga dari kemampuan operasi dan layanannya yang handal. Didukung oleh tenaga kerja yang kompeten melalui learning centre yang kuat, Bank BCA dipercaya oleh puluhan juta pelanggan retail dan nasabah individu.

Namun konsep pengkategorian oleh Baruch tidak menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan oleh praktisi bisnis: apa faktor utama pendorong terciptanya aset tanwujud? Profesor Dave Ulrich memberi jawaban melalui pengelompokan aset tanwujud yang agak berbeda. Pengkategorian menurut Dave adalah: membuat dan mempertahankan janji, memiliki strategi yang jelas untuk bertumbuh, mengelola kompetensi inti perusahaan, dan membangun kemampuan organisasi (Leadership Capital Index, 2015).

Seorang CEO yang baru ditunjuk untuk memimpin sebuah perusahaan properti bercerita tentang pengalamannya meyakinkan seorang bankir agar bersedia mengucurkan dana kredit pengembangan usaha yang bernilai ratusan milyar Rupiah. Sebelum penandatanganan akad kredit, bankir tersebut meminta pertemuan empat mata dengan sang CEO untuk menanyakan satu hal, “Bapak jamin ya bahwa selama jangka pembayaran lima tahun ke depan bapak tidak akan meninggalkan perusahaan ini?” Kekhawatiran bankir tersebut terkait kemampuan pemimpin untuk membangun kepercayaan dengan melakukan apa yang telah dijanjikan kepada karyawan di dalam dan pelanggan serta investor di luar perusahaan.

Selain harus mampu memenuhi janji, perusahaan juga menciptakan nilai tanwujud ketika pemimpinnya memiliki strategi ke depan yang jelas dan meyakinkan sehingga dapat memotivasi karyawan dan memberi nilai tambah kepada pelanggan. Selanjutnya strategi tersebut diselaraskan dengan kompetensi inti perusahaan ketika pemimpin berinvestasi dalam riset dan pengembangan serta aset intelektual lainnya yang menghasilkan hak paten, copyrights, dan merek dagang.  Pengembangan kompetensi inti juga terjadi ketika pemimpin mampu mengintegrasikan keahlian lintas fungsional dari produksi, operasi, marketing dan teknologi. Aset tanwujud yang terakhir, membangun kemampuan organisasi terealisasi ketika pemimpin dapat menciptakan budaya perusahaan dan sistem manajemen SDM yang selaras dengan misi dan strategi perusahaan.

Konsep aset tanwujud dari Dave, yang pernah dipilih sebagai Management Guru no.1 di dunia oleh majalah Business Week, menekankan bahwa kepemimpinan (bukan hanya pemimpin di level puncak) merupakan faktor utama pendorong terciptanya aset tanwujud. Ketika pemimpin di semua lini perusahaan mampu membangun kemampuan inti dan mengembangkan organisasi, maka pertumbuhan kapitalisasi pasar perusahaan yang berkesinambungan akan tercipta.

Suwardi Luis

CEO, GML Performance Consulting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *