Kutukan Pengetahuan

Elizabeth Newton pernah melakukan sebuah eksperimen sederhana yang sangat menarik. Ia menugaskan sekelompok orang untuk berperan sebagai “pengetuk” dan “pendengar”. Pengetuk menerima daftar berisi dua puluh lima lagu yang terkenal, seperti “Happy Birthday to You” atau lagu lainnya yang pasti sudah dikenal dengan baik.

Setiap pengetuk diminta memilih satu lagu dari daftar itu dan lalu mengetuk ritmenya kepada seorang pendengar (dengan mengetuk meja). Tugas pendengar adalah menerka lagu tersebut, berdasarkan ritme yang diketuk. Anda boleh mencobanya sendiri dengan teman Anda sebagai sukarelawan untuk menjadi “pendengar”.

Ternyata tugas pendengar tidak mudah. Dalam eksperimen ini, 120 lagu diketukkan. Pendengar hanya dapat menerka 2.5 persen dari lagu tersebut, alias hanya 3 dari 120 lagu.

Uniknya adalah, sebelum pendengar menyebutkan terkaan mereka, pengetuk diminta untuk memprediksi seberapa besar kemungkinan pendengar untuk dapat menerka dengan tepat. Secara rata-rata mereka memprediksi bahwa kemungkinannya adalah 50 persen.

Pengetuk memperkirakan bahwa 50 persen pendengar dapat menerka dengan tepat. Nyatanya, hanya 2.5 persen yang bisa melakukannya. Mengapa?

Ketika seorang pengetuk mengetuk meja, ia mendengarkan lagu tersebut di kepalanya. Masalahnya adalah, bagi seorang pendengar, ia hanya mendengarkan ketukan-ketukan yang tampaknya tidak berkaitan satu sama lain, tidak berarti sama sekali.

Akibatnya, ketika para pendengar tidak dapat menerka dengan baik, para pengetuk berkomentar: “Bukankah lagunya begitu jelas? Kenapa kamu bodoh sekali tidak bisa menerkanya?”

Sebaliknya, para pendengar berpendapat: “Apa sih yang kamu lakukan? Ketukan apa itu? Tidak ada artinya sama sekali!”

Masalahnya yang terjadi di sini adalah ada kesenjangan antara pengetuk dan pendengar. Pengetuk telah mengetahui sebelumnya judul lagu tersebut. Ketika mereka mengetuk, mereka tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya bagi seorang pendengar untuk mendengar ketukan-ketukan yang terpisah seperti itu. Inilah Kutukan Pengetahuan.

Segera setelah kita mengetahui sesuatu, kita sulit membayangkan bagaimana rasanya jika kita tidak mengetahuinya. Pengetahuan kita telah “mengutuk” kita. Dan menjadi sulit bagi kita untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain, karena kita tidak dapat dengan segera membayangkan bagaimana rasanya kalau kita tidak mengetahui hal tersebut.

Kesalahpahaman antara pengetuk dan pendengar seperti ini terjadi setiap hari di seluruh dunia. Pengetuk dan pendengar itu adalah CEO dengan karyawannya, dokter dengan pasiennya, guru dengan muridnya, orang tua dan anak-anaknya, dan kita semua dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Ketika seorang CEO mengatakan “visi organisasi kita adalah memaksimumkan nilai bagi pemegang saham dengan cara meningkatkan loyalitas pelanggan dengan didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten,” di kepalanya ada pemahaman yang jelas tentang topik yang bersangkutan.

Bagi kebanyakan karyawan yang mendengarnya, mereka tidak punya bayangan apa pun tentang apa yang dimaksudkan. Mereka bisa saja memiliki pemahaman yang jauh berbeda dibandingkan dengan yang dimaksudkan si CEO itu.

Eksperimen di atas diceritakan oleh Chip & Dan Heath dalam buku mereka Made to Stick. Dan mereka menawarkan resep dalam bentuk enam prinsip untuk mengatasi kutukan pengetahuan tersebut dalam bentuk akronim SUCCESs (Simple, Unexpected, Concrete, Credible, Emotional, Story).

Singkatnya, pesan yang kita sampaikan perlu sederhana (Simple), sedapat mungkin tidak terduga, unik, atau baru bagi pendengar (Unexpected), disampaikan dengan disertai contoh-contoh, peragaan, alat bantu visual atau alat bantu lainnya untuk mendorong pemahaman (Concrete), menyentuh pendengar secara emosi (Emotional) dan sedapat mungkin mengandung unsur cerita (Story).

Keenam prinsip inilah yang akan membantu kita untuk meningkatkan kualitas komunikasi kita dengan orang lain. Dan ini menjadi sangat relevan ketika komunikasi tersebut tidak disampaikan secara tatap muka, seperti lewat konten e-learning, misalnya.

Jika perusahaan Anda sudah mengimplementasikan e-learning, bagaimana penilaian Anda tentang konten yang ada saat ini? Seorang Subject Matter Expert (SME) sering kali begitu menguasai sebuah topik, sehingga ia tidak dapat menerjemahkan topik tersebut ke dalam bahasa yang mudah dipahami orang lain.

Di sinilah peran seorang Instructional Designer (ID) yang perlu menerjemahkan topik tersebut ke dalam serangkaian aktivitas e-learning yang meaningful and memorable bagi peserta, dengan memperhatikan keenam prinsip SUCCESs di atas.

eLearningFrameWork

Daniel Wirajaya

Vice President – Lutan Edukasi Consulting Services

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *