Tantangan dalam implementasi pengelolaan SDM berbasis kompetensi

Tentunya kita sudah tidak asing lagi mendengar mengenai Competency Based Human Resource Management (CBHRM), di mana hampir seluruh spektrum HR dijalankan berdasarkan kepada kompetensi dari tiap Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalam organisasi. Penggunaan kompetensi dalam pengelolaan SDM merupakan standar dasar yang harus diimplementasi setiap organisasi yang ingin bersaing secara kompetitif. Sayangnya, masih banyak organisasi yang penerapannya hanya sebatas konsep tanpa diimplementasikan. Mengapa hal ini dapat terjadi? Berikut adalah beberapa hal menghambat implementasi CBHRM.

Pertama, CBHRM merupakan strategi HR di mana setiap spektrum HR (recruitment, people development, career planning, talent management, hingga performance appraisal) diintegrasikan, saling berhubungan dan berpijak pada satu pondasi yang sama, yaitu kompetensi. Hal ini mengharuskan adanya sistem yang terintegrasi antar spektrum, yang pembangunannya membutuhkan waktu lama. Banyak organisasi mengalami kesulitan untuk mengatasi silo tinggi dalam organisasi untuk mendorong integrasi.

Kedua, organisasi harus membangun satu set pondasi kompetensi yang lengkap, dari mulai kamus, profil, sampai metode pengukuran kompetensi. Tentunya untuk membangun pondasi tersebut dibutuhkan keahlian khusus, dan yang terpenting membutuhkan kemampuan untuk memastikan pondasi yang disusun tersebut menggambarkan isi dan strategi organisasi.

Mayoritas organisasi yang ingin mengimplementasikan CBHRM terhambat dalam kedua hambatan tersebut. Lalu bagaimanakah cara organisasi memulai implementasi CBHRM?

Pertama, awali dengan memastikan keselarasan antara strategi dan proses bisnis yang tertuang dalam struktur organisasi dan job description untuk setiap posisi di organisasi. Job description adalah panduan membuat daftar kemampuan dan perilaku tertentu yang harus dimiliki oleh SDM untuk melakukan pekerjaan dengan optimal. Daftar kemampuan dan perilaku inilah yang selanjutnya dituangkan dalam daftar kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan, sehingga akhirnya dapat dibandingkan siapakah yang lebih unggul dalam pelaksanaan pekerjaan di antara SDM yang menduduki posisi tersebut. Di sinilah kunci hubungan antara kompetensi dengan strategi organisasi.

Kedua, pastikan bahwa organisasi menggunakan standar tersebut secara konsisten di semua proses HR. Karena standar kompetensi melekat pada kualifikasi kebutuhan setiap posisi, maka implementasi CBHRM merupakan sistem yang hidup, yang terus dikembangkan dan diperbaharui setiap saat melalui pengukuran level kompetensi karyawan di organisasi dibandingkan dengan standar kompetensi. Hasil dari pengukuran tersebut menjadi dasar implementasi HR, misalnya rekrutmen, promosi dan mutasi, serta manajemen talenta.

Cara mengukur kompetensi setiap karyawan di organisasi bervariasi, mulai dari asesmen kompetensi melalui observasi perilaku atau ketrampilan, sampai metode yang lebih komprehensif dan akurat yaitu assessment center. Assessment center merupakan metode pengukuran kompetensi karyawan yang paling komprehensif, karena menggunakan lebih dari satu alat, dan satu orang karyawan dinilai oleh lebih dari satu assessor. Hal ini mengacu kepada prinsip assessment center, yaitu multi tools dan multi rater. Dengan menggunakan assessment center, organisasi mendapatkan hasil pengukuran level kompetensi yang paling obyektif dibandingkan dengan metode lainnya.

Jika dua hambatan sebelumnya adalah hambatan saat memulai implementasi CBHRM, maka hambatan ketiga adalah hambatan saat implementasi. Sama halnya dengan pengelolaan SDM, implementasi CBHRM membutuhkan investasi yang tidak sedikit.  Namun yang perlu disadari adalah implementasi CBHRM mengurangi ketidakefisienan pengelolaan SDM, terutama dalam memastikan integrasi seluruh proses bisnis HR dan yang terpenting, memastikan keselarasan antara strategi organisasi dan kompetensi SDM yang tersedia.

Implementasi CBHRM menimbulkan dilema “ayam dan telur”, mana yang lebih dulu ada. Tanpa implementasi CBHRM yang baik, integrasi proses di HR tidak akan berjalan baik dan kebutuhan organisasi tidak terpetakan dengan optimal.  Begitu juga sebaliknya.  Jadi apa kuncinya?  Mulailah! Implementasikan! Evaluasi jika ada yang perlu diperbaiki. Ingat, a journey of a thousand miles begins with one step (Lao Tzu).

Aurora Isabelle

Head of Assessment

PT GML Performance Consulting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *